Mengapa Maaf ?
Dear kamu,
Kamu pernah mengatakan, walaupun aku sudah memiliki hidup sendiri tapi jika tidak mau menceritakan sedikit saja hidupku kepadamu berarti aku masih memendam kemarahan yang tidak berujung pada persoalan itu.
Kamu juga pernah mengatakan kepadaku mengenai perasaan bersalah mu yang tidak juga bisa berhenti walau sudah sekian tahun.
Dan aku pun menuliskan pada mu, “Jalani saja hidup kalian sendiri dan meminta maaf lah pada yang Menggenggam Jiwa. Jangan lagi pada ku”
Kemudian, kamu dan banyak orang menyimpulkan bahwa aku tidak akan pernah memberi maaf dan terjebak pada lingkaran amarah.
Banyak orang, termasuk kamu pun menganggap bahwa jika aku memaafkanmu maka :
· Pemaafanku terjadi secara total dan sekaligus.
· Perasaan negatif terhadap kamu berganti menjadi perasaan positif.
· Ketika memaafkan kamu, aku mengakui bahwa perasaan negatifku padamu adalah salah serta tak dapat dibenarkan.
· Aku tidak akan mendapat imbalan apa pun.
· Aku melupakan luka hatiku yang disebabkan olehmu
Bukan..Bukan itu maksudku.. Itu keliru (Janis Spring (1996)..
Sadarkah kamu..memberi maaf bukan berarti mengampuni kesalahan, tidak mendendam, memberi remisi, atau pembebasan seperti yang selama ini dianut banyak orang ?
Menurut Cullough, Worthington, Rachal (1997), secara psikologis, memaafkan merupakan proses menurunnya motivasi membalas dendam dan menghindari interaksi dengan orang yang telah menyakiti sehingga cenderung mencegah seseorang berespons destruktif dan mendorongnya bertingkah laku konstruktif dalam hubungan sosialnya.
Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika aku berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu aku punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain.
Jadi, berdasarkan proses memaafkan diatas, kuberikan saja beberapa fakta memaafkan yang ada pada mu.
Fakta yang pertama. Proses memaafkan selalu berlangsung sangat perlahan. Mungkin saat ini aku hanya dapat memaafkan kamu sebanyak 10 persen kemudian seiring dengan berjalannya hidupku mungkin aku dapat menambahnya sampai 50 persen tetapi tak akan pernah lebih banyak lagi.
Fakta yang kedua. Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan dengan melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan atau dendam”. Penghentian permusuhan merupakan suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu. Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang serta secara ajaib kemudian digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta. Jadi, ketika memaafkan maka rasa benciku pun akan tetap ada.
Fakta yang ketiga. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti aku mengingkari kesalahanmu yang telah terjadi tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi terhadap dampak yang kamu timpakan kepada hidupku. Dampak yang dapat berlangsung hingga kematianku.
Fakta yang kelima. Bagaimanapun aku yang disakiti kamu maka aku tak akan pernah akan lupa seperti apa aku telah diperdaya olehmu. Setelah bertahun-tahun pun aku akan tetap bisa mengingatnya tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran atau potret.
Kamu, cobalah bayangkan sebentar saja. Hubungan kamu dan aku dapat diibaratkan sebagai sebuah danau yang semula airnya tampak tenang. Kemudian kamu memasukkan tanpa perasaan serta melempar bebatuan yang sangat besar dan tajam disertai dengan sampah busuk yang sangat banyak ke dalam danau. Ketika kamu melakukannya maka ketenangan permukaan airnya pun akan terganggu. Timbul riak dan gelombang air di sekitar bekas lemparan batu dan sampahmu. Setelah beberapa lama, riak dan gelombang air tersebut akan kembali tenang. Seakan danau itu kembali seperti semula serta tidak ada perubahan yang berarti. Akan tetapi, tahu kah kamu ?
Tahukah kamu bahwa batuan tajam dan sampah busuk itu akan selalu tetap berada dan mengendap di dasar danau ?
Hingga pada akhirnya, Danau itu pun tidak akan pernah sama menjadi danau sebelum kamu lempari dengan batu tajam dan sampah.
Itu lah mengapa..aku tak mau terlalu banyak berbagi cerita hidupku dengan mu.
Salam hangat.





